Kaligrafi Perempuan
Kaligrafi memang seni yang istimewa, salah satu buktinya tersaji lewat buku berjudul “Seniman Kaligrafi Terakhir”. Buku ini diangkat dari kisah nyata Rikkat Kunt, seorang kaligrafer terakhir dari Dinasti Ottoman. Rikkat Kunt adalah kaligrafer perempuan yang menjadi saksi hidup ketika huruf-huruf Arab menjadi menjadi “huruf terlarang”, saat Kemal Attaturk mengubah Dinasti Muslim Ottoman (Turki Utsmani) menjadi Republik Sekuler Turki. Huruf-huruf Arab pun diganti dengan huruf Turki, kaligrafi Arab dipinggirkan, dan Rikkat Kunt menjadi “kaligrafer yang mati sebelum kematiannya tiba”.
(buku “Seniman Kaligrafi Terakhir telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa)
Buku ini ditulis oleh “orang istimewa” Yasmine Ghata, seorang kaligrafer, seniman, dan penulis perempuan terkemuka Prancis. Yasmine tak lain adalah cucu dari Rikkat Kunt. Judul asli buku ini “La Nuit des Calligraphes” berbahasa Prancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh “orang istimewa”, Prof.Dr.Ida Sundari Husen, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Dengan setting dunia seni kaligrafi yang samar, wilayah yang serba aneh dan mistis, berpadu dengan dunia Turki kontemporer yang terbuka, roman indah sekaligus klasik berdasar kisah nyata ini begitu menggugah. “Kaligrafi Perempuan”, karena tokoh utamanya adalah kaligrafer perempuan, penulisnya perempuan, dan penerjemahnya pun seorang perempuan.
Edisi Bahasa Indonesia, ISBN: 9789790240056 / Penerbit: Serambi / 2008
Masukan ini dipos pada 26 Maret 2008 6:54 am dan disimpan pada Buku Baru, Galeri . Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.
28 Maret 2008 pada 9:01 pm
Dulu di kelas kaligraf Kak Okeu pernah mengatakan tentang khat diwani yang “diciptakan” oleh seorang wanita. Maka dari itu khat diwani dijuluki khat feminim (tentunya selain model hurifnya yang “menari-nari). Lalu apakah tokoh kaligrafi di atas (Rikkat Kunt) adalah kaligrafer yang menciptakan khat diwani? Kalau bukan, siapa kaligrafer wanita yang menciptakan khat diwani itu?
29 Maret 2008 pada 12:39 am
Ich finde die Kaligraphie sehr schön!
Lg
29 Maret 2008 pada 1:29 pm
pardon, schrijf ik in het nederlands.
bedank voor uw aandag,
ik hoof voor verder ‘comment’ .
dank u wel, prettig kennis te maken. veel succes.
29 Maret 2008 pada 1:42 pm
Diwani bukan diciptakan oleh wanita, kreatornya Ibrahim Munif (Turki). Namun, khath ini populer dengan khat feminim, karena bentuk hurufnya yang menari-nari, dan ada satu cerita tentang seorang wanita Turki yang jatuh cinta (tapi cintanya bertepuk sebelah tangan). Dia ungkapkan perasaan hatinya lewat tulisan diwani yang sangat indah.
Dahulu Diwani adalah Times New Roman Turki, karena lazim dipakai di kantor-kantor pemerintahan.
Terima kasih.