Kaligrafi Epik A.D Pirous

Sebelum tahun 70-an, seni lukis kaligrafi masih sangat asing di Indonesia. Tulisan kaligrafi Arab masih terbatas pada komposisi huruf untuk ayat suci atau hadits nabi. Huruf-huruf Arab “eklektik” dan warna-warna “abstrak” belum banyak digunakan, apalagi menyisipkan mimitasi (visualisasi makhluk hidup) pada kaligrafi, “makruh” atau bahkan “haram”. Namun tradisi itu pudar, saat seorang seniman yang juga dosen seni rupa Institut Teknlogi Bandung (ITB) menyuguhkan karya kaligrafi dengan huruf Arab eklektik kaya nuansa dan warna. Pameran kaligrafi tersebut diadakan di Chase Manhattan Bank Jakarta pada 1972 dan pelukisnya dikenal dengan nama, A.D. Pirous.

Abdul Djalil Pirous, demikian nama lengkapnya. Lahir di Meulaboh, Nanggro Aceh Darussalam pada 11 Maret 1932. Tahun 1955 belajar seni rupa di Universitas Indonesia cabang Bandung (kini ITB), lulus 1964 dan langsung menjadi pengajar disana. Pada 1969 Pirous belajar seni barat dan grafis di Rochester Intitute of Technology New York, Amerika Serikat. Justru di negeri Paman Sam inilah jiwanya kembali terpanggil untuk menulis dan menekuni kaligrafi Arab, seni warisan ribuan tahun dari peradaban agamanya yang agung. Panggilan itu muncul saat tahun 1970, dia menyaksikan kaligrafi klasik Timur Tengah dipamerkan di Museum New York.

Sekembalinya dari Amerika, dia mulai mempelopori dan memasyarakatkan seni lukis kaligrafi Arab. Pirous memberikan kuliah seni lukis, tipografi, dan kaligrafi bagi mahasiswa ITB serta aktif berpameran di dalam dan luar negeri. Berbagai penghargaan telah diperoleh hingga mencapai gelar profesor seni rupa ITB. Akhirnya dia sukses menjadikan kaligrafi, genre lukisan modern sendiri. 

Seni lukis kaligrafi baginya adalah sebuah upaya memahami alam yang terbentang di sekitar dan di dalam diri sendiri, dengan segala tanda-tandanya adalah inspirasi yang bisa digali dan disikapi, hingga memunculkan pengalaman spiritual. Budaya dan tradisi Aceh menjadi puncak inspirasi kaligrafinya, tempat di mana ia dibesarkan dalam tradisi yang menjunjung tinggi kaligrafi. Maka lahir karya-karya  kaligrafi Epik kental nuansa kepahlawanan dan perjuangan rakyat Aceh seperti, hikayat perang Sabil Teungku Tjik Pante Kulu, Kisah heroik Teuku Umar, dan untaian manikam syair-syair religi Aceh.

Pirous adalah sosok kaligrafer, akademisi, seniman, dan muslim teladan. ”Sewajarnya seorang seniman peka pada budaya dan tradisi masa silamnya dan arif menyikapi kebudayaan masa kini”. Sebuah ungkapan bijak dari Prof. A.D. Pirous, Imam seni lukis kaligrafi, yang sudah sepantasnya diteladani.  

6 Tanggapan ke “Kaligrafi Epik A.D Pirous”

  1. assalamualaikum bapak, perkenalkan nama saya Fauzi dari Unesa Surabaya. saya kagum dengan Bapak sebagai seorang seniman, saya ingin sekali bertemu dengan bapak. semoga Allah mengabulkan keinginanku ini. Bapak kapan ke Sby lagi? wassalamualaikum

  2. assalamualaikum ust pirous. saya adalah salah satu orang didikan ust didin yang beberapa waktu lalu berkunjung ke gallery dan home bapak. saya sangat bangga sekali bisa bertemu langsung dan mendengarkan sebuah pencerahaan dalam berkarya. setelah melihat karya-karya yang bapak hasilkan, muncul didalam hati saya rasa kagum dan “subhanallah” indah sekali paduan warna dan khat arab. mudah-mudahan saya bisa mengikuti langkah dan perjuangan bapak dimasa depan. amin

  3. Saya beberapa bulan yang lalu , pada saat pameran di Jl Sangkuriang. Bandung, memesan sebuah lukisan berjudul “Alif dan pedang” sampai saat ini tidak ada kabar ttg lukisan tersebut (?)

  4. Kepada: Ulun Legi
    Saya memililki beberapa lukisan AD Pirous yang saya mau jual…
    Jika anda tertarik silahkan email saya di syalina@gmail.com

    Terima Kasih

  5. Asslamualaikum. naman saya beni pak, saya adalah putra aceh, saya sangat bangga dengan bapak, saya juga berharap kedepan akan ada orang2 meneruskan perjuangan bapak ini, Amin

  6. gooooooooooooood

Tinggalkan Balasan